Sunday, 9 December 2012

Bintang Baru

Aku berdiri di atas ribuan bintang
Bukan bintang yang sebenarnya memang
Bintang yang penuh dengan kemunafikan belaka
Entahlah, aku juga tidak mengerti

Kemana bintang-bintang yang dulu bersinar terang memancarkan kedamaian abadi?
Meninggalkan bintang-bintang yang entah bersinar dari dan untuk apa

Tunggu, sepertinya aku mulai mengerti
Bintang-bintang yang ku kenal dulu tidak pernah pergi
Mereka tetap setia pada singgasananya
Tertutup oleh sinar-sinar bintang yang baru

Mereka menanti, menanti, dan terus menanti sebuah keajaiban
Aneh memang, karena biasanya bintanglah yang menciptakan keajaiban
Tapi sekarang? mereka yang menanti
Lalu datang dari mana keajaiban itu kala sebenarnya mereka sendirilah yang yang menciptakan keajaiban
Apa mereka menanti diri mereka sendiri
Lalu kenapa harus menanti?
Entah, ini memang sedikit aneh

Aneh sekali
Sementara sinar dari bintang-bintang baru terus menerang seiring menghilangnya sinar bintang-bintang pendahulu
Aku berdiri di atas bintang-bintang itu.

Friday, 23 November 2012

Hujan, maaf

hujan kini telah kembali
datang silih berganti bersama sepi
membawa pesan dari ibu pertiwi
bahwa ia merasa tersakiti

bagaimana tidak?
ku ingat sebulan yang lalu monyet-monyet mendengungkan kerinduan mereka terhadap rintikan hujan
menarikan tarian-tarian hujan bak orang gila yang kerasukan setan
mendoakan agar hujan cepat kembali
dan terus menanti dengan sepenuh hati seperti bayi yang menanti asi

hujan kini telah kembali
menyambut puji-pujian para penanti
namun apa yang terjadi? semua datang hanya untuk menghianati
tarian berganti jadi makian
doa menyublim menjadi keluhan

mungkin ini sudah menjadi tradisi
yang diwariskan pada tiap generasi
mendarah daging dalam nadi
menjadi sifat naluri tiap insani

mencintai lalu menghianati